BeritaNasionalPemeritah

Hilal Tak Terlihat di Pasuruan dan Malang, Awal Ramadhan 1447 H Berpotensi Istikmal

224
×

Hilal Tak Terlihat di Pasuruan dan Malang, Awal Ramadhan 1447 H Berpotensi Istikmal

Sebarkan artikel ini
Black Modern Photo Acoustic Music Youtube Banner 20260305 103325 0000

Republiexnews– Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) Kabupaten Pasuruan menggelar rukyatul hilal untuk menentukan awal Ramadhan 1447 Hijriah di MAN Insan Cendekia Pasuruan, Selasa (17/2/2026) sore menjelang magrib.

Pemantauan hilal tersebut melibatkan tim pengamat dari LFNU bersama sejumlah unsur terkait. Namun sejak awal pengamatan, kondisi cuaca di wilayah Pasuruan kurang bersahabat.

Langit terlihat tertutup awan tebal disertai hujan deras. Kondisi itu membuat proses observasi hilal tidak dapat dilakukan secara maksimal.

Akibatnya, hilal dipastikan tidak terlihat pada petang hari tersebut.

Peristiwa serupa juga dilaporkan terjadi di Kabupaten Malang. Pada waktu yang sama, wilayah tersebut juga melakukan rukyatul hilal namun terkendala cuaca mendung.

Rukyatul hilal ini merupakan bagian dari agenda pemantauan nasional untuk menentukan awal bulan Ramadhan 1447 Hijriah.

Seluruh hasil pengamatan dari berbagai daerah nantinya akan dilaporkan kepada pemerintah pusat. Data tersebut menjadi bahan pertimbangan dalam sidang isbat penetapan awal Ramadhan.

Sekretaris LFNU Kabupaten Pasuruan, M Rusdi, menyampaikan bahwa berdasarkan perhitungan falakiyah posisi hilal masih berada di bawah ufuk.

Menurutnya, nilai ketinggian hilal masih bernilai negatif sehingga belum memenuhi syarat imkanur rukyat.

“Secara falakiyah posisi hilal memang belum memungkinkan untuk dirukyat, baik dengan mata telanjang maupun menggunakan alat optik,” ujarnya.

Perhitungan falakiyah tersebut menggunakan beberapa metode yang selama ini menjadi rujukan kalangan ahli falak Nahdlatul Ulama.

Metode yang digunakan antara lain Irsyadul Murid, Ephemeris, Nurul Anwar, serta Badi’atul Mitsal.

Seluruh metode itu menunjukkan hasil yang sama, yakni hilal belum wujud dan belum memenuhi kriteria rukyat.

Rusdi menambahkan, baik standar Mabim lama maupun Mabim baru tetap menunjukkan kesimpulan yang serupa.

Dalam perhitungan metode Adduru Al-Aniq, ketinggian hilal tercatat minus satu derajat lebih lima puluh menit.

Sementara metode Badi’atul Mitsal menunjukkan posisi hilal sekitar minus nol derajat dua puluh tiga menit.

Angka tersebut masih berada di bawah garis ufuk sehingga secara astronomis mustahil untuk diamati secara visual.

Dengan kondisi demikian, besar kemungkinan bulan Syaban akan digenapkan menjadi tiga puluh hari melalui metode istikmal.

Sementara itu, rukyatul hilal di Kabupaten Malang dipusatkan di Pendopo Pemerintah Kabupaten Malang dengan melibatkan berbagai unsur terkait.

Sejumlah pejabat hadir dalam kegiatan tersebut, termasuk perwakilan Kementerian Agama, pengurus LFNU, serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Kepala BMKG Stasiun Geofisika Malang, Mamuri, menyampaikan bahwa posisi hilal di Indonesia pada 17 Februari 2026 masih berada di bawah ufuk.

Ia menjelaskan, ketinggian hilal di seluruh wilayah Indonesia masih bernilai negatif sehingga tidak mungkin terlihat pada saat pengamatan.

Di Jayapura, ketinggian hilal tercatat sekitar minus 2,41 derajat. Sementara di Tua Pejat, Sumatera Barat, sekitar minus 0,93 derajat.

Data tersebut menegaskan bahwa secara nasional hilal belum memenuhi syarat visibilitas pengamatan.

Hasil rukyat dari berbagai daerah nantinya akan menjadi pertimbangan dalam sidang isbat yang digelar pemerintah pusat.

Masyarakat diminta menunggu keputusan resmi pemerintah terkait penetapan awal Ramadhan 1447 Hijriah.

 

Penulis: Allendra Vieto Febrianto

Editor: Tim Redaksi Republiexnews

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *